Seorang ibu memiliki anak berusia 15 tahun yang suka membuat onar.
Ia mendatangi pendeta, meminta anak itu didoakan, tapi pendeta menolaknya,
“Tak ada gunanya selama Ibu terus berkata bahwa ia tidak maju² dalam hidupnya.
Jika saya berdoa untuk kebaikannya,
tapi Ibu mengatakan hal² yang buruk tentang dia, hal itu akan membatalkan doa saya.”
“Lalu apa yang mesti saya perbuat?” tanya si ibu.
“Setiap hari katakanlah,
‘TUHAN, dalam pemeliharaan-MU,
aku percaya anakku akan berhasil.
Ia akan menjadi anak yang baik dan taat.'”
15 bulan kemudian, pendeta itu kembali bertemu dengan ibu tadi.
Dengan bersemangat si ibu bercerita anaknya sudah berubah.
Menurut Amsal, perkataan yang kerap kita gemakan dapat menjadi kenyataan.
“Hidup dan mati dikuasai lidah,
siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”
(Amsal 18:21)
Kalau begitu, perkataan apakah yang sering kita ucapkan kepada pasangan, anak, dan orang di sekitar kita?
Apakah kita lebih sering menggemakan hal² yang buruk:
pasangan yang tak bisa di andalkan,
anak² yang payah,
teman yang tidak berguna?
Ataukah kita lebih banyak mengatakan hal² yang membangun, memberkati, dan menguatkan?
Bila kita menyadari besarnya pengaruh perkataan dalam turut membentuk kondisi kehidupan kita,
ikut memengaruhi kesuksesan dan kegagalan kita,
tentu kita akan lebih ber-hati² dalam ber-kata².
Biarlah hati kita di penuhi dengan kebenaran dan keindahan Firman Tuhan,
sehingga perkataan lidah kita yang memancar dari sana mendatangkan kebaikan dan kesejahteraan bagi sesama.
“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu,
tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu,
supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.”
(Efesus 4:29)
