Di dunia ini ada dua kapal besar yang selalu diingat dalam sejarah umat manusia. Kisah kedua kapal itu selalu menjadi perbincangan semua orang dan sudah beberapa kali difilmkan baik di televisi maupun bioskop-bioskop di seluruh dunia. Kapal itu adalah bahtera Nuh dan Titanic. Kedua nama itu begitu melegenda, meskipun Titanic adalah kapal besar yang sarat dengan kemewahan dibangun oleh para profesional sedangkan bahtera Nuh dibangun oleh seorang amatir. Namun demikian bahtera Nuh sukses membawa ribuan makhluk hidup untuk bertahan hidup sedangkan Titanic menewaskan lebih dari 1000 orang di laut Atlantik. Ternyata bahtera Nuh jauh lebih sukses. Mengapa demikian? Sebab bahtera Nuh dibangun semata-mata karena perintah Allah bukan ambisi dan kesombongan manusia.
Dari kisah ini dapat kita tarik pelajaran bahwa segala sesuatu yang kita lakukan sesuai dengan kehendak dan penyertaan Allah pasti akan membawa kebaikan dalam hidup kita. Berbeda jika sebuah pekerjaan itu kita lakukan atas kemauan kita sendiri, apalagi atas dasar kesombongan dan ambisi supaya dilihat orang saja. Memang tampak di luar pekerjaan itu berhasil namun keberhasilan itu tidak akan bertahan lama. Seperti yang dikatakan Salomo, “Jika bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya. Jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.”
Tuhan adalah kunci keberhasilan kita. Oleh sebab itu libatkanlah Tuhan dalam setiap pekerjaan kita. Mintalah tuntunan dan penyertaannya. Janganlah kita hanya menyandarkan diri pada kekuatan kita sendiri. Pusatkan hati dan pikiran kita kepada-Nya. Sabarlah dalam proses, sebab keberhasilan yang sesungguhnya mungkin akan memakan waktu yang lama. Mungkin kita akan merasa jenuh karena apa yang kita lakukan dan harapkan tidak kunjung membuahkan hasil. Namun percayalah jika Tuhan turut bekerja dan campur tangan dalam hidup kita, jerih payah kita tidak akan sia-sia. Tuhan Yesus memberkati.
