INSPIRASI KEHIDUPAN

ANAK ALLAH

Ada ratusan nabi yang hidup sezaman dengan Elia, tetapi Allah memakai Elia melebihi semua nabi-nabi itu. Kemunculan awal Elia telah memperlihatkan eratnya hubungan antara Elia dengan Allah. Ada hubungan timbal balik antara Allah dan Elia. Elia mendengarkan Allah dan Allah mendengarkan Elia. Keintiman hubungan Elia dan Allah sangat dipengaruhi oleh besarnya pengharapan dan iman Elia sendiri. Ketika Elia dengan iman meminta Allah untuk mengembalikan nyawa anak janda di Sarfat, Dia mengabulkan doanya. Ketika anak itu hidup kembali, janda tersebut mengakui kebesaran Allah Israel dan juga kenabian Elia. “Kemudian kata perempuan itu kepada Elia: Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan firman Tuhan yang kau ucapkan itu adalah benar.” ( 1 Raja 17:24). Ketika Elia meminta api turun dari surga untuk membakar korban petang yang dipersiapkannya, dalam sekejap api turun menyambar dan menghabiskan korban persembahan itu. Dan ketika Elia berdoa agar hujan turun hari itu juga, ia menerimanya. Di puncak gunung Karmel, gunung yang sakral bagi orang Israel, Elia menghadap Allah dengan posisi membungkuk ke tanah dan muka di antara kedua lututnya. Ini menunjukkan bahwa ia bersungguh-sungguh berdoa dan hasilnya Allah mengabulkan permintaannya. Elia sepenuh hati memegang janji yang difirmankan Allahnya. Semua peristiwa di atas membuktikan bahwa Elia memelihara hubungannya dengan Allah.
Mengapa Allah mau mendengarkan permohonan Elia? Karena Elia ada di dalam Allah dan firman-Nya hidup dalam Elia. Inilah kekariban yang sejati. Keindahan kekariban seperti ini pernah diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yoh 15:7).
Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa kita adalah anak-anak Allah. Anak tentu memiliki hubungan yang lebih karib dengan Bapanya, melebihi dari siapapun. Status sebagai anak memungkinkan kita untuk meminta Bapa di surga melakukan perkara-perkara yang mustahil untuk kita lakukan. Yang menjadi masalah adalah, apakah kita sudah menunjukkan bahwa kita telah menjadi anak yang berkenan di hadapan Bapa? Apakah kita sudah menyendengkan telinga kita untuk mendengar isi hatinya dan memberikan hati kita untuk taat sepenuhnya kepada perintah-perintah-Nya? Jika Bapa mendengarkan doa anak-anak-Nya seperti Elia, maka Dia juga akan mendengarkan kita jika kita taat sepenuhnya kepada-Nya. Tuhan Yesus memberkati.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *